Berlatar belakang
kota besar, lampu-lampu yang berkelap-kelip, mobil yang sibuk lalu-lalang di
jalanan. Kaum muda mulai bersiap-siap untuk menyemarakkan berbagai aktifitas
malam. Dengan memakai sepatu bermerk, baju-baju buatan designer, dan tak lupa
mengapit Handphone model terbaru, ditambah dengan jam tangan trendy yang wah.
Bau parfum menyerbak dari mereka, parfum yang berbau uang.
Mereka tampak sibuk
bergerombol menikmati malam, lalu-lalang di shopping mall, atau hanya sekedar
ngeceng di mall, berusaha untuk membunuh kebosanan dengan melewati waktu dengan
sia-sia. Kamu akan mendapati mereka duduk dengan tenang di kafe-kafe, hanya
untuk melihat-lihat orang yang lalu-lalang, tertawa, sambil sesekali melihat
layar tv besar yang menampilkan pertandingan sepak bola yang sedang
berlangsung. Atau kamu juga dapat mendapati mereka sedang melaju kencang dengan
mobilnya, stereo diputar maksimal, mengejutkan orang-orang yang mengemudi di
samping, sambil terus tertawa. Sebuah pemandangan yang biasa.
Setiap kali saya
melihat pemandangan ini, saya menemukan diri saya mengingat seseorang.
Seseorang yang berlumur darah dan terkubur di tanah Uhud, kakinya ditutupi
rumput-rumput harum, badannya hanya ditutupi sepetak kain wol yang tidak cukup
menutupi seluruh tubuhnya. Seseorang itu dulunya adalah anak kesayangan ibunya,
diberi pakaian paling mahal. Harum parfumnya menyebar ketika dia berjalan.
Dialah dulunya yang menjadi pembicaraan wanita-wanita makkah, dan idola
teman-temannya. Dialah seorang pemuda paling flamboyant di kalangan kaum muda
Quraish. Pemuda itu meninggalkan semua hal keduniaan itu untuk pergi memenuhi
panggilan Allah dan mencari ridhaNya. Pemuda itu ialah Mus’ab bin Umair bin
Hashim bin Abd Munaf atau yang dikenal sebagai Mus’ab al Khair.
Mus'ab yang saat
itu masih muda mendengar tentang munculnya seorang nabi terpilih di kalangan
kaum Quraisy. Seorang nabi yang membaca ajaran tauhid. Didorong oleh rasa
keingintahuannya yang besar, maka Mus'ab pun pergi menemuhi Nabi SAW untuk
mendengar sendiri ajaran yang dibawa oleh beliau. Suatu malam, Mus'ab
memutuskan untuk pergi ke rumah Al-Arqaam Ibn Al-Arqam - yang kemudian dikenal
dengan Daar al Arqaam di kalangan muslim-, meninggalkan teman-temannya yang
sedang berkumpul. Disinilah Mus'ab bertemu dengan Nabi SAW dan muslim-muslim
lainnya ketika itu, tanpa diketahui oleh orang-orang Quraish. Disinilah dimana
Mus'ab mendengar Rasulullah berbicara tentang masa depan islam, mendengar
ayat-ayat quran dan sholat dibelakang Rasulullah SAW.
Malam itu, Mus'ab
duduk bersama muslim lainnya, mendengarkan ayat-ayat quran yang dikumandangkan
oleh Rasulullah SAW. Ketika itulah, Mus'ab lupa akan kesenangan hidup di dunia,
menemukan kunci kebahagiaan abadi.
Perjalanan Mus'ab
dalam memeluk islam tidaklah mudah. Ibunya yang bernama Khunnas bint Maalik
adalah penentang utama akan keyakinan barunya ini. Untuk menghindari
pertengkaran, maka Mus'ab mula-mula tidak memberi tahu ibunya bahwa dia telah
memeluk islam. Tetapi, melalui pembicaraan orang-orang yang sering melihat
Mus'ab mengunjungi Daar Al-Arqam akhirnya ibunya pun mengetahui bahwa Mus'ab
telah menjadi muslim. Ibunya yang terkenal sebagai seorang penyembah berhala
yang kukuh memerintah Mus'ab untuk kembali ke agama berhala dan bertaubat, meninggalkan
islam. Mus'ab menolak dan akhirnya dikunci di salah satu sudut rumah itu.
Berita bahwa kaum
muslim hijrah ke Abyssinia sampai ke telinga Mus'ab. Rindu akan bertemu dengan
saudara-saudara seagamanya, Mus'ab pun melarikan diri dari ibunya dan penjaga-penjaganya,
kemudian bergabung dengan muslimin yang pindah ke Abyssinia. Tak lama kemudian,
Mus'ab pulang ke Makkah untuk hijrah kedua kalinya bersama Rasulullah SAW ke
Yastrib. Ketika Mus'ab pulang dari Abyssinia, Ibunya berusaha memenjarakan
Mus'ab. Tetapi Mus'ab bersumpah akan membunuh siapa yang akan berusaha
menangkap dan mempenjarakannya. Tahu akan keras dan teguhnya pendirian anaknya,
Ibunya berikrar bahwa Mus'ab tidak diakui lagi menjadi anaknya. Pergi, kamu
bukan anakku lagi.
Pada saat itu Mus'ab
berkata pada ibunya, "Oh Ibu, aku ingin menasehatimu dan sesungguhnya
hatiku menyayangimu, ibu bersaksilah bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan
Muhammad adalah utusanNya. Dengan muka merah padam ibunya bersumpah "Demi
bintang-bintang, aku tak akan pernah masuk ke dalam agamamu, merendahkan
martabatku dan dan melemahkan pikiranku!"
Mus'ab memasuki
islam dengan sebenar-benarnya, mengikuti firmah Allah dalam Alquran yang
berkata: udkhuluu fi silmi kaafah (Masukilah islam dengan sempurna/kaffah).
Tiada lagi kemewahan pada dirinya, bajunya sederhana, makanan seadanya, dan
tanah adalah tempat tidurnya.
Suatu hari, Mus'ab
pergi untuk bertemu beberapa muslim. Ketika itu mereka sedang duduk bersama
Nabi SAW. Ketika mereka melihat Mus'ab, mereka menundukkan kepala sambil
menangis diam-diam. Ingatan mereka kembali kepada seorang anak muda yang
dulunya anak kesayangan sang ibu, dapat meminta apa saja keinginannya. Pakaian
mewahnya dulu kini telah berganti dengan pakaian sederhana yang penuh tambalan,
yang hampir saja tak mencukupi badannya. Ketika Mus'ab pergi meninggalkan
majelis itu, Nabi SAW mengatakan: Aku lihat Mus'ab, dan sungguh tidak ada anak
muda di Makkah yang lebih berpunya daripada ia. Tetapi semua kemewahan itu dia
tinggalkan demi cintanya kepada Allah dan nabiNya.
Melihat perilakunya
yang baik dan kesabarannya yang tinggi, Nabi Muhammad SAW menyuruh Mus'ab untuk
pergi ke Yastrib untuk mengunjungi orang-orang yang telah melakukan perjanjian
kepada Nabi di aqabah, menyebarkan islam, dan mempersiapkan kota Yastrib untuk
hijrah nabi Muhammad SAW. Padahal ketika itu masih banyak sahabat-sahabat lain
yang mempunyai kekuatan dan keberanian. Tetapi, nabi Muhammad SAW tetap memilih
Mus'ab untuk pergi ke Yastrib. Selama di Yastrib, Mus'ab tinggal sebagai tamu di
rumah Sa'ad Ibn Zurarah dari suku Khazraj. Bersama-sama mereka mengunjungi
penduduk Yastrib, menjelaskan ajaran tauhid dan melantunkan ayat-ayat suci
Alquran.
Suatu ketika,
Mus'ab dan Sa'ad duduk di dekat sumur di daerah bani Zafar. Kemudian mereka didekati
oleh Usayd Ibn Khudayr dengan muka merah padam dan tombak ditangan. Sa'ad
berbisik kepada Mus'ab: Dialah pemimpin kaum ini. Mudah-mudahan Allah
memberikan hidayah padanya. Mus'ab menjawab dengan tenang: Jika dia mau duduk,
barulah aku akan berbicara dengannya. Usayd sangat marah karena Mus'ab telah
berhasil menyebarkan islam dengan terus bertambahnya penduduk Yastrib yang
memeluk islam. Usayd berteriak: Kenapa kamu berdua datang kepada kami dan
mempengaruhi kaum yang lemah diantara kami? Jauhi kamu jika kamu masih ingin
hidup.
Mus'ab tersenyum dan berkata "Tidak maukah kamu duduk dan mendengarkan apa yang akan kami sampaikan? JIka kamu tidak menyukai apa yang akan kami sampaikan, kami akan berhenti dan pergi".
Mus'ab tersenyum dan berkata "Tidak maukah kamu duduk dan mendengarkan apa yang akan kami sampaikan? JIka kamu tidak menyukai apa yang akan kami sampaikan, kami akan berhenti dan pergi".
Usayd memutuskan
untuk duduk dan mendengar apa yang Mus'ab ingin sampaikan. Mus'ab mulai
menerangkan mengenai Islam dan melantunkan sebagian dari Quraan. Seketika
ekspresi muka Usayd berubah. Kata pertama yang diucapkannya adalah:
"Betapa indahnya ayat-ayat ini dan betapa benarnya kandungannya, bagaimana
caranya memasuki agama ini?"
Mus'ab berkata:
"Mandilah, bersihkan dirimu dan pakaianmu. Kemudian ucapkanlah shahadat
dan laksanakanlah shalat."
Usayd pun bersaksi
bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah utusanNya. Kemudian
ia shalat dua rakaat. Keislamaan Usayd inipun diikuti seorang pemimpin
berpengaruh lainnya yaitu Sa'ad ibn Muaadh.
Saat Nabi SAW
hijrah, tidak satu rumahpun di Yastrib yang belum dikunjungi Mus'ab untuk
menyampaikan islam. Pada hijrah berikutnya, Mus'ab membawa 70 orang muslim dari
Yastrib untuk mengadakan perjanjian mendukung nabi Muhammad SAW.
Setelah pasukan muslimin menang pada perang Badar, kaum muslimin menangkap beberapa kaum kafir mekkah dan meminta tebusan akan mereka. Ketika Mus'ab melewati para tawanan ini, dia melihat kakak kandungnya yang bernama Abu Aziz ibn Umayr. Mus'ab sama sekali tidak berusaha membebaskan kakaknya, tetapi ia menyuruh agar kakaknya itu diikat dengan erat sambil berkata: "ibunya adalah seorang yang kaya dan akan memberi tebusan yang banyak, jagalah ia". Ketika itu kakaknya mengingatkan Mus'ab bahwa dia adalah kakak kandungnya. Mus'ab menjawab : "Yang kuakui sebagai persaudaraan adalah persaudaraan dalam islam, laki-laki ini adalah saudaraku, bukan kamu!"
Ketika perang uhud terjadi, Mus'ab dipilih untuk membawa tiang bendera perang. Ketika pasukan pemanah meninggalkan bukit yang menjadi stasiunnya (melanggar perintah nabi), maka kaum kafir Mekkah menyerang balik dan berusaha membunuh Nabi Muhammad SAW yang ketika itu dilindungi oleh beberapa sahabat. Seketika ada sebuah teriakan yang mengabarkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah wafat.
Pada ketika itulah titik kemuliaan hidup Mus'ab mencapai puncak. Ibrahim ibn Muhammad, saudara dari keluarga ayahnya, berkata; Mus'ab ibn 'Umair membawa tiang bendera perang ketika perang Uhud. Disaat pasukan muslimin berpecah-belah, Dia berdiri dengan tegap sampai ketika ia bertemu Ibn Qaami'ah yang seorang panglima pasukan kafir Mekkah. Ibn Qaami'ah kemudiah memukul dan memotong tangan kanan Mus'ab tetap dengan teguh memegang bendera dengan tangan kirinya sambil berkata "Dan sungguh Muhammad SAW itu adalah seorang nabi, dan Nabi-nabi telah meningal sebelumku". Kemudian Ibn Qaami'ah memutuskan tangan kiri Mus'ab. Mus'ab tetap menegakkan bendera perang dengan lengan atas dan dadanya sambil berkata "Dan sungguh Muhammad SAW itu adalah seorang nabi, dan Nabi-nabi telah meningal sebelumku". Kemudian datang prajurit kafir ketiga yang menghujamkan tombaknya ke dada Mus'ab.
Setelah pasukan muslimin menang pada perang Badar, kaum muslimin menangkap beberapa kaum kafir mekkah dan meminta tebusan akan mereka. Ketika Mus'ab melewati para tawanan ini, dia melihat kakak kandungnya yang bernama Abu Aziz ibn Umayr. Mus'ab sama sekali tidak berusaha membebaskan kakaknya, tetapi ia menyuruh agar kakaknya itu diikat dengan erat sambil berkata: "ibunya adalah seorang yang kaya dan akan memberi tebusan yang banyak, jagalah ia". Ketika itu kakaknya mengingatkan Mus'ab bahwa dia adalah kakak kandungnya. Mus'ab menjawab : "Yang kuakui sebagai persaudaraan adalah persaudaraan dalam islam, laki-laki ini adalah saudaraku, bukan kamu!"
Ketika perang uhud terjadi, Mus'ab dipilih untuk membawa tiang bendera perang. Ketika pasukan pemanah meninggalkan bukit yang menjadi stasiunnya (melanggar perintah nabi), maka kaum kafir Mekkah menyerang balik dan berusaha membunuh Nabi Muhammad SAW yang ketika itu dilindungi oleh beberapa sahabat. Seketika ada sebuah teriakan yang mengabarkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah wafat.
Pada ketika itulah titik kemuliaan hidup Mus'ab mencapai puncak. Ibrahim ibn Muhammad, saudara dari keluarga ayahnya, berkata; Mus'ab ibn 'Umair membawa tiang bendera perang ketika perang Uhud. Disaat pasukan muslimin berpecah-belah, Dia berdiri dengan tegap sampai ketika ia bertemu Ibn Qaami'ah yang seorang panglima pasukan kafir Mekkah. Ibn Qaami'ah kemudiah memukul dan memotong tangan kanan Mus'ab tetap dengan teguh memegang bendera dengan tangan kirinya sambil berkata "Dan sungguh Muhammad SAW itu adalah seorang nabi, dan Nabi-nabi telah meningal sebelumku". Kemudian Ibn Qaami'ah memutuskan tangan kiri Mus'ab. Mus'ab tetap menegakkan bendera perang dengan lengan atas dan dadanya sambil berkata "Dan sungguh Muhammad SAW itu adalah seorang nabi, dan Nabi-nabi telah meningal sebelumku". Kemudian datang prajurit kafir ketiga yang menghujamkan tombaknya ke dada Mus'ab.
Setelah Perang Uhud
berakhir, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat kembali ke bukit uhud untuk
menguburkan syuhada-syuhada yang gugur, yang sebagian mayatnya sudah dirusak
wanita-wanita quraisy yang mencuri barang mereka. Nabi Muhammad SAW berhenti
sejenak ketika beliau melihat jenazah Mus'ab dan berkata: Diantara orang-orang
yang beriman ada mereka yang setia dengan janjinya dengan Allah. Kemudian Rasul
SAW memandang ke jenazah-jenazah para syuhada dan berkata: Sesungguhnya nabi
Allah ini bersaksi bahwa mereka adalah martir Allah pada hari Kebangkitan
nanti.
Ketika itu tidak
cukup kain yang tersedia sebagai kain kafan untuk Mus'ab. Khabbab ibn Al-Arat
menceritakan: Kami berhijrah mengikuti nabi hanya karena Allah, maka akan kami
terima balasannya dari Allah. Sebagian dari kami meninggal tanpa menikmati
balasan apapun di dunia ini. dan salah satunya adalah Mus'ab ibn Umair, yang
terbunuh pada perang Uhud. Dia tidak meninggalkan apa-apa kecuali sebuah kain
wool yang sudah cabik-cabik. Jika kami tutupi kakinya dengan kain ini, maka
kepalanya tidak tertutupi. Rasulullah SAW kemudian menyuruh kami menutupi
kepalanya dengan kain tersebut dan menaruh rumput jeruk di atas kakinya.
Ingatan tentang
Mus'ab dalam kuburnyalah yang menyebabkan sahabat seperti Abdur Rahmaan ibn Auf
untuk menangis karena takut tidak mendapat bagiannya di hari akhirat karena
telah mendapat banyak nikmat dan kemudahan di dunia ini. Suatu ketika,
pembantunya membawakannya makanan untuk berbuka puasa dan ibn Auf menangis,
memngingat Mus'ab yagn sudah meninggal tanpa dapat merasakan nikmat dunia,
melainkan mendapatkan kenikmatan abadi di Alam Baqa.
Malam terus
berlanjut, Akupun kembali mengingat para syuhada yang terbaring di tanah Uhud.
Merekalah orang-orang yang mencari ridha Allah, dan diridhai Allah. Mereka
telah mendapatkan kenikmatan dan kesenangan abadi. Di tengah-tengah hiruk-pikuk
pengunjung mall, dimana tak terhitung muda-mudi muslim berusaha mencari
kesenangan dunia dengan cara masing-masing. Sungguh kita orang-orang yang
beruntung, jika kita dapat mengingat kehidupan Mus'ab radiyy Allahu anhu.
Mengingatkan kita agar tidak larut dalam kehidupan dunia.
diterjemahkan oleh redaksi Kafemuslimah
0 komentar:
Posting Komentar