Mahasuci Allah Dzat yang tak pernah bosan
mengurus semua hamba-Nya. Yang telah menjadikan amalan memuliakan orang tua
(birul walidain) sebagai amalan yang amat dicintai-Nya. Demi Allah, siapa pun
yang selalu berusaha untuk memuliakan kedua orang tuanya, niscaya akan Ia
angkat derajatnya ke tempat paling tinggi di dunia maupun di akhirat.
Alangkah tepat andai firman Allah tersebut
kita baca berulang-ulang dan kita renungkan dalam-dalam. Sehingga Allah
berkenan mengaruniakan cahaya hidayahnya kepada kita, mengaruniakan kesanggupan
untuk mengoreksi diri dan mengaruniakan kesadaran untuk bertanya: "Telah
seberapa besarkah kita memuliakan ibu bapak?". Boleh jadi kita sekarang
mulai mengabaikan orang tua kita. Bisa saja saat ini mereka tengah memeras
keringat banting tulang mencari uang agar studi kita sukses. Sementara kita
sendiri mulai malas belajar dan tidak pernah menyesal ketika mendapatkan nilai
yang pas-pasan. Bahkan, dalam shalat lima waktunya atau tahajudnya mereka tak
pernah lupa menyisipkan doa bagi kebaikan kita anak-anaknya.
Tetapi, berapa kalikah dalam sehari semalam
kita mendoakannya? Shalat saja kita sering telat dan tidak khusyuk. Ada seorang
perwira tinggi yang sukses dalam karirnya, ternyata memiliki jawaban yang
"sederhana" ketika ditanya seseorang, "Waktu kecil apakah Bapak
pernah bercita-cita ingin jadi seorang jenderal?" Pertanyaan itu dijawabnya
dengan tegas; "Saya tidak pernah bercita-cita seperti itu, kalau pun ada
yang saya dambakan ketika itu, bahkan hingga sekarang, saya hanya ingin
membahagiakan kedua orang tua saya!" Betapa dengan keinginan yang sepintas
tampak sederhana, ia memiliki energi yang luar biasa, sehingga mampu menempuh
jenjang demi jenjang pendidikan dengan prestasi gemilang.
Bahkan ketika mulai masuk dinas
ketentaraannya, ia mampu meraih jenjang demi jenjang dengan gemilang pula,
hingga sampai pada pangkat yang disandangnya sekarang. Subhanallah. Karena itu,
kita jangan sampai mengabaikan amalan yang sangat disukai Allah ini. Rasulullah
SAW menempatkan ibu "tiga tingkat" di atas bapak dalam hal bakti kita
pada keduanya. Betapa tidak, sekiranya saja kita menghitung penderitaan dan
pengorbanan mereka untuk kita, sungguh tidak akan terhitung dan tertanggungkan.
Seorang ulama mengatakan, "Walau kulit kita dikupas hingga telepas dari
tubuh tidak akan pernah bisa menandingi pengorbanan mereka kepada kita."
Berbulan-bulan kita bebani perut ibu, hingga
ketika ia miring dan bergerak jadi sulit, karena rasa sakit menahan beban kita
di dalam perutnya. Berjalan berat, duduk pun tak enak, tapi ia tak pernah
kecewa. Sebaliknya, ia selalu tersenyum. Begitu pun ketika melahirkan, ibu kita
benar-benar dalam keadaan hidup mati. Darah berhamburan, keringat bercucuran.
Sakit tiada terperi. Namun, ia ikhlas! Manakala melihat kita si jabang bayi,
hilanglah semua penderitaan. Senyum pun tersungging, walau tubuh lunglai
tatkala mendengar tangisan kita, yang kelak banyak menyusahkannya. Ingatkah
kita ketika masih bayi? Kepalanya kita kencingi. Badannya kita beraki. Sedang
tidur pun kita bangunkan. Kita suruh ia mencuci popok hampir setiap waktu.
Tiba waktu sekolah, orang tua kita harus peras keringat banting tulang, bahkan mau bertebal muka, ngutang ke sana ke sini. Semuanya dilakukan agar anak-anaknya bisa sekolah, bisa berpakaian seragam yang pantas. "Rutinitas" itu berlangsung bertahun-tahun, mulai dari SD, SMP, SMA, hingga kita kuliah. Bahkan, setelah menikah pun tetap saja kita menyusahkan dan membebani mereka dengan aneka masalah. Benar-benar tak tahu malu, kita menengadahkan tangan pada kedua orang tua sekian tahun lamanya. Semua contoh di atas seharusnya menyebabkan kita bisa mengukur diri, apa yang bisa kita lakukan untuk keduanya selama ini? Betapa sering kita mengiris-iris hatinya. Mulai dari tingkah-laku kita yang jauh dari kesopanan, ucapan yang terkadang menyakitkan, hingga perlakuan kita yang sering merendahkan.
Tiba waktu sekolah, orang tua kita harus peras keringat banting tulang, bahkan mau bertebal muka, ngutang ke sana ke sini. Semuanya dilakukan agar anak-anaknya bisa sekolah, bisa berpakaian seragam yang pantas. "Rutinitas" itu berlangsung bertahun-tahun, mulai dari SD, SMP, SMA, hingga kita kuliah. Bahkan, setelah menikah pun tetap saja kita menyusahkan dan membebani mereka dengan aneka masalah. Benar-benar tak tahu malu, kita menengadahkan tangan pada kedua orang tua sekian tahun lamanya. Semua contoh di atas seharusnya menyebabkan kita bisa mengukur diri, apa yang bisa kita lakukan untuk keduanya selama ini? Betapa sering kita mengiris-iris hatinya. Mulai dari tingkah-laku kita yang jauh dari kesopanan, ucapan yang terkadang menyakitkan, hingga perlakuan kita yang sering merendahkan.
Yang lebih kurang ajar lagi, kita sering
memperlakukan mereka sebagai pembantu. Bahkan ada di antara kita yang malu
mempunyai orang tua yang lugu dan sederhana. Tentu kita terlahir ke dunia tidak
untuk berlaku rendah seperti itu. Allah dan Rasul-Nya tidak akan pernah ridha
melihat kelakuan tersebut. Dari sinilah kita harus berusaha menjaga hubungan
baik dengan mereka, karena di sana terbuka pintu surga. Ridha orang tua adalah
ridha Allah SWT. Betapapun ada satu dua perlakukan orang tua kita yang kurang
berkenan di hati, tapi ingatlah bahwa darah dagingnya mengalir dan melekat di
diri kita? Makanan yang sehari-hari kita makan pun adalah buah dari tetesan
keringatnya.
Alangkah lebih baik apabila kita bersabar dan teruslah panjatkan doa. Karena itu, jangan tunda waktu untuk membahagiakan mereka. Mohonkanlah maafnya atas segala kesalahan dan kelalaian kita selama ini. Karena siapa tahu Allah akan segera menakdirkan perpisahan antara kita dengan mereka untuk selama-lamanya. Kalau keduanya sudah berada di dalam kubur, bagaimana kita bisa mencium tangannya. Kita tidak bisa mempersembahkan bakti apapun kalau mereka sudah terbujur kaku. Jangan enggan untuk menjaga, membela, membahagiakan, memuliakan, menghormati, dan berbuat yang terbaik terhadap keduanya. Jangan lupa untuk selalu mendoakan keduanya agar mendapatkan khusnul khatimah.
Alangkah lebih baik apabila kita bersabar dan teruslah panjatkan doa. Karena itu, jangan tunda waktu untuk membahagiakan mereka. Mohonkanlah maafnya atas segala kesalahan dan kelalaian kita selama ini. Karena siapa tahu Allah akan segera menakdirkan perpisahan antara kita dengan mereka untuk selama-lamanya. Kalau keduanya sudah berada di dalam kubur, bagaimana kita bisa mencium tangannya. Kita tidak bisa mempersembahkan bakti apapun kalau mereka sudah terbujur kaku. Jangan enggan untuk menjaga, membela, membahagiakan, memuliakan, menghormati, dan berbuat yang terbaik terhadap keduanya. Jangan lupa untuk selalu mendoakan keduanya agar mendapatkan khusnul khatimah.
Mudah-mudahan perjuangan kita yang ikhlas
dalam memuliakan keduanya membuat Allah ridha, sehingga Ia berkenan mengangkat
derajat mereka berdua dan kita pun menjadi hamba yang berada dalam naungan
cahaya ridha-Nya.
Wallahu a'lam
bish-shawab.
Oleh : KH.
Abdullah Gymnastiar
0 komentar:
Posting Komentar