Apa yang
menyebabkan orang tersinggung? Ketersinggungan seseorang timbul karena menilai
dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, berjasa, saleh, tampan, dan merasa
sukses. Setiap kali kita menilai diri lebih dari kenyataan bila ada yang
menilai kita kurang sedikit saja akan langsung tersinggung. Peluang tersinggung
akan terbuka jika kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada
sesuatu yang harus kita perbaiki, yaitu proporsional menilai diri.
Teknik pertama agar
kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai lebih kepada diri kita.
Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah berjasa, saya seorang
guru, saya seorang pemimpin, saya ini orang yang sudah berbuat. Semakin banyak
kita mengaku-ngaku tentang diri kita, akan membuat kita makin tersinggung.
Ada beberapa cara yang cukup efektif untuk meredam ketersinggungan. Pertama,
belajar melupakan. Jika kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan kita.
Jika kita seorang direktur lupakanlah jabatan itu. Jika kita ustadz lupakan
keustadzan kita. Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan seterusnya.
Anggap semuanya ini
amanah agar kita tidak tamak terhadap penghargaan. Kita harus melatih diri
untuk merasa sekadar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali ilmu yang
dipercikkan oleh Allah sedikit. Kita lebih banyak tidak tahu. Kita tidak
mempunyai harta sedikit pun kecuali sepercik titipan Allah. Kita tidak
mempunyai jabatan ataupun kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah
amanahkan. Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. Semakin kita
ingin dihargai, dipuji, dan dihormati, akan kian sering kita sakit hati.
Kedua, kita harus
melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada kita akan bermanfaat jika
kita dapat menyikapinya dengan tepat. Kita tidak akan pernah rugi dengan
perilaku orang kepada kita, jika bisa menyikapinya dengan tepat. Kita akan merugi
apabila salah menyikapi kejadian, dan sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang
lain berbuat sesuai dengan keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah
memaksa diri sendiri menyikapi orang lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun
perkataan orang lain kepada kita, tentu itu terjadi dengan izin Allah. Anggap
saja ini episode atau ujian yang harus kita alami untuk menguji keimanan kita.
''Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa
musibah, mereka mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Mereka
itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan
mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al Baqarah: 155-157).
Ketiga, kita harus
berempati. Yaitu, mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Perhatikan kisah
seseorang yang tengah menuntun gajah dari depan dan seorang lagi mengikutinya
di belakang Gajah tersebut. Yang di depan berkata, "Oh indah nian
pemandangan sepanjang hari". Kontan ia dilempar dari belakang karena
dianggap menyindir. Sebab, sepanjang perjalanan, orang yang di belakang hanya
melihat pantat gajah. Karena itu, kita harus belajar berempati. Jika tidak
ingin mudah tersinggung, cari seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang
lain. Namun yang harus diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata
untuk memaklumi, bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat
mengendalikan diri.
Keempat, jadikan
penghinaan orang lain kepada kita sebagai ladang peningkatan kwalitas diri dan
kesempatan untuk mengamalkan sifat mulia. Yaitu, memaafkan orang yang menyakiti
dan membalasnya dengan kebaikan. Wallahu a'lam bish-shawab.
0 komentar:
Posting Komentar