Masih banyak lagi jenis
pesawat terbang yang digunakan untuk berbagai kepentingan manusia. Tak
banyak yang tahu siapa pihak yang pertama kali mengagas ide teknologi
pesawat terbang. Memang, selama ini peradaban Barat selalu mengklaim
bahwa teknologi pesawat terbang berasal dari ide para ilmuwannya. Namun,
klaim itu terpatahkan oleh pernyataan Sejarawan Barat, Philip K Hitti,
dalam bukunya yang bertajuk History of the Arabs. “Ibnu Firnas adalah manusia pertama dalam sejarah yang melakukan percobaan ilmiah untuk melakukan penerbangan,’” tulis K Hitti. Konsep
pesawat terbang Ibnu Firnas inilah yang kemudian dipelajari Roger Bacon
setelah 500 tahun Ibnu Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat
terbang.
Berawal dari Eksperimen
Siapa Ibnu
Firnas? Ibnu Firnas adalah ilmuwan Muslim yang lahir di Korah Takrna
dekat Ronda, Spanyol pada masa pemerintahan Khalifah Muhammad Amir Bin
Abdurrahman. Ibnu Firnas adalah seorang polymath, yaitu menekuni
berbagai ilmu sekaligus: kimia, fisika, kedokteran, astronomi, dan juga
sastra.
Ibnu Firnas tercatat pernah
melakukan berbagai eksperimen, antara lain membuat kaca dari pasir dan
batu. Ia juga menemukan rantai cincin yang menggambarkan pergerakan
bintang dan planet-planet. Selain itu, ia juga merancang alat pengukur
waktu yang disebut al-maqata. Pada tahun 875 M, Ibnu Firnas
mengundang masyarakat Cordoba untuk berkumpul di sebuah bukit di
Andalusia, Spanyol. Masyarakat diundang guna menyaksikan uji coba sebuah
pesawat yang dirancangnya. Ibnu Firnas memamerkan pesawatnya yang
bertenaga dorong baling-baling. Dua bagian sayap pesawatnya berkaitan
dengan kaki dan tangannya.
Setelah itu, Ibnu Firnas
naik ke menara lalu melompat. Ibnu Firnas berhasil melayang di atas
ketinggian beberapa ratus kaki, lalu membumbung tinggi. Peristiwa
menakjubkan ini dicatat oleh seorang penyair bernama Mu’min Ibnu Said
yang mengatakan, “ Ibnu Firnas terbang lebih cepat daripada burung
phoenix. Ketika mengenakan bulu-bulu di badannya ia seperti burung
manyar.”
Ibnu Firnas tercatat
sebagai orang pertama di dunia yang melakukan uji coba penerbangan
terkendali. Dengan semacam alat kendali terbang yang digunakan pada dua
set sayap, Ibnu Firnas bisa mengontrol serta mengatur ketinggian
terbangnya. Selain itu, dia juga bisa mengubah arah terbang. Hal itu
dibuktikan dengan keberhasilannya kembali ke arah di mana ia meluncur.
Sebelumnya, pada 852 M Ibnu
Firnas juga melakukan uji coba terbang. Ibnu Firnas membuat satu set
sayap yang terbuat dari kain yang dikeraskan dengan kayu. Alat yang
diciptakan Ibnu Firnas berupa ornithopter, yakni alat terbang yang
menggunakan prinsip kepakan sayap seperti pada burung, kelelawar, atau
serangga. Dengan peralatan seperti payung, Ibnu Firnas lalu loncat dari
menara Masjid Agung Cordoba. Pada uji coba pertama itu, Firnas tak bisa
terbang alias gagal.
Namun, peralatan yang
digunakannya mampu memperlambat jatuhnya Ibnu Firnas. Ia pun mendarat
dengan selamat dengan hanya mengalami luka kecil. Alat yang digunakan
Ibnu Firnas inilah yang merupakan cikal bakal parasut. Kegagalan ini ia
evaluasi dengan memperhatikan bagaimana burung menggunakan ekor mereka
untuk mendarat. Ia lupa untuk menambahkan ekor pada model pesawat layang
ciptaaanya.
Barat Melirik
Ilmuwan
Muslim lain yang pernah melanjutkan percobaan terbang Ibnu Firnas adalah
Farabi Ismail Jauhari, seorang guru bahasa Arab yang berasal dari
Nishabur, Khurasan, Iran. Isamail Jauhari melakukan percobaannya pada
tahun 1003. Seperti halnya Ibnu Firnas, Ismail Jauhari merancang sayap
terbang yang dapat digerakkan dengan tangan dan kaki, seperti halnya
seekor burung, selanjutnya meluncur dari tempat-tempat tinggi. Salah
satu tempat percobaan Ismail Jauhari adalah menara Masjid Ulu Nishabur.
Pada tahun 1162, saat
berkecamuk perang salib, para tentara Muslim mulai menggunakan pesawat
terbang untuk melakukan serangan. Para Saracen (Muslim zaman perang
salib) berdiri di atas Hippodrome Constantinople dengan sebuah peralatan
terbang seperti jubah. Teknologi persawat terbang yang dirancang oleh
Ibnu Firnas rupanya membuat Leonardo Da Vinci tertarik untuk
mengembangkan teknologi itu. Pada abad 16 Da Vinci mencoba memecahkan
teka-teki pesawat terbang yang diperkenalkan Ibn Firnas. Da Vinci merasa
terkunci dengan misteri burung-burung hingga ilmuwan asal Italia itu
melakukan pembedahan terhadap unggas yang menghasilkan rancangan mesin
terbang yang diikatkan di punggung seorang laki-laki.
Semakin Berkembang
Setelah Da
Vinci, percobaan penerbangan yang lebih moderen dan berhasil dilakukan
oleh Hezarfen Ahmed Celebi, pilot Turki paling terkenal pada masa
Khalifah Usmani di bawah pemerintahan Sultan Murad IV. Diilhami
rancangan Da Vinci, dengan mengoreksi beberapa bagian dan sistim
keseimbangannya, Hezarfen mengambil pelajaran burung rajawali.
Setelah melakukan sembilan
kali percobaan, Hezarfen menemukan formula yang pas untuk sayap
pesawatnya. Pada tahun 1638, dengan ketinggian 183 kaki dari Galata
Tower di dekat Bosporus Istambul, Hezarfen melakukan uji coba
penerbangan. Hezarfen terbang menuju Uskudar lalu berbelok ke Bosporus,
dan sukses! Hezarfen mendarat mulus di sebuah tempat di Borporus.
Jarak terbang yang telah ia
tempuh jika diukur dari titik awal tempatnya meluncur adalah sekitar
3200 meter. Karena ia memulai terbangnya di wilayah Eropa dan mendarat
di Asia, maka Hezarfen merupakan orang yang pertama melakukan
penerbangan lintas benua. Sultan Murad IV yang menyaksikan sendiri
peristiwa tersebut dari tempat peristirahatannya yang bernama Sinan
Pasha di Sayayburnu, memberi penghargaan kepada Hezrfen 1000 keping
emas.
“Hezarfen Ahmet Celebi,
pertama kali mencoba terbang sebanyak delapan atau sembilan kali dengan
sayap elang menggunakan tenaga angin,” ujar Evliya Celebi dalam buku
catatan perjalanannya yang tersimpan rapi di Perpustakaan Istanbul.
“Hezarfen Ahmet Celebi
telah membuka era baru dalam sejarah penerbangan,” papar Sultan Murad.
Upaya serupa juga dilakukan saudara laki-laki Hezarfen pada tahun 1633 M
yang bernama Lagari Hasan Celebi. Peristiwa ini tercatat sebagai
peristiwa terbang berawak vertikal pertama yang menggunakan sistem
pendorong 7 buah roket dengan bubuk mesiu sebanyak 300 pound. Menurut
catatan Evliya Celebi, Lagari berhasil mencapai ketinggian kira-kira 300
meter selama 20 detik.
Sebagai penghargaan atas
prestasinya itu, Lagari Hasan Celebi dingkat menjadi salah satu pejabat
militer di Angkatan Darat Turki. Sementara itu di Eropa, berita
kesuksesan penerbangan Celebi bersaudara sampai di Inggris pada tahun
1638, dan dicatat oleh John Winkins dalam bukunya yang berjudul Discovery of New World. [hidayatullah.com/www.globalmuslim.web.id]
0 komentar:
Posting Komentar