Seorang pendengki hidupnya
tidak akan mulia di dunia. Malaikat pun akan muak kepadanya. Jika kelak
mati, ia akan mendapatkan kedudukan yang teramat hina di hadapan Allah.
Demikian pula di Yaumul Hisab timbangannya akan terbalik, sehingga
neraka Jahanam pun siap menerkamnya. Itulah nasib malang yang akan Allah
timpakan kepada seorang pendengki.
Apakah dengki itu? Secara
garis besar sifat ini terbagi ke dalam dua bagian. Pertama, dengki yang
diharamkan. Seseorang merasa tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh
orang lain dan merasa bahagia kalau orang lain mendapat musibah. Atau
setidaknya, ia menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut
hilang. Ini dengki yang diharamkan, karena sifat seperti ini termasuk ke
dalam tingkatan ketiga dari penyakit hati.
Kedua, dengki yang
diperbolehkan berupa rasa iri kepada kenikmatan orang lain, tapi tidak
ingin menghilangkan kenikmatan tersebut darinya. Melihat orang lain
memiliki rumah bagus, kita merasa iri ingin pula memiliki hal yang sama
dan tidak dengan cara menjadikan orang tersebut jatuh miskin. Keinginan
seperti ini wajar-wajar saja selama tidak bergeser menjadi perasaan
tidak enak, yang berlanjut pada hasrat ingin melenyapkan kenikmatan
orang tersebut.
Bahkan, “kebolehan” merasa
dengki seperti ini insya Allah akan berpahala bila kita berbuat.
Pertama, ketika melihat orang berilmu dan gemar mengamalkan ilmunya,
giat berdakwah dengan penuh keikhlasan, dan kita pun menginginkan untuk
berbuat seperti itu. Kedua, ketika melihat orang kaya yang gemar
membelanjakan hartanya di jalan Allah, lantas kita menginginkan berbuat
hal serupa.
Dengki biasanya akan
berpasangan dengan keadaan yang dihadapi pemiliknya. Mahasiswa akan
dengki kepada sesama mahasiswa. Orang pintar akan dengki kepada orang
yang pintar lagi, demikian seterusnya. Pendek kata, akan sulit terjadi
seseorang merasa dengki terhadap orang lain yang memiliki kapasitas
berbeda.
Secara umum ada empat hal
yang bisa menyebabkan munculnya sifat dengki, yaitu: pertama, kebencian
dan permusuhan. Sifat ini bisa muncul karena pernah disakiti, difitnah,
salah satu haknya dilanggar, atau sebab-sebab lain yang merugikan diri
sendiri.
Kedua, hadirnya naluri
untuk selalu lebih dari orang lain. Naluri ini merupakan jalan tol
menuju penyakit dengki. Seseorang yang merasa pakaiannya paling bagus
misalnya, akan mudah dihinggapi rasa dengki ketika melihat ada orang
yang pakaiannya lebih bagus dan lebih mahal daripada yang dipakai
dirinya.
Kita hidup seharusnya
seperti orang memandikan mayat. Ia akan senang bila ada yang membantu.
Ketika berkiprah dalam dakwah, hendaknya kita bersyukur tatkala ada
saudara seiman yang memiliki misi yang sama, dan ditakdirkan ilmu dan
jamaahnya lebih banyak dari kita. Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisaa:
32, ”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah
kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian lain. (Karena) bagi
laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita pun
ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah
sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu.”
Penyebab dengki yang ketiga
adalah ambisi kepemimpinan. Obsesi ingin selalu memimpin yang disertai
ambisi untuk merebut pucuk pimpinan adalah sarana yang paling rawan
munculnya kedengkian. Bahkan bisa menjadi awal hancurnya sebuah negara
dan umat.
Karena itu, dalam konteks
kepemimpinan umat, orang yang pertama kali terbenam ke dalam neraka
adalah ulama-ulama pendengki yang selalu berambisi menjadi pemimpin dan
mengejar popularitas. Munculnya kedengkian dalam hati para ulama dan
pemimpin umat sedikit demi sedikit akan menghapuskan cita-cita luhur
untuk mewujudkan ittihadul ummah; persatuan umat dalam cahaya Islam.
Dalam QS Al-Hujurat ayat 12
disebutkan: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari
prasangka karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa.
Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah pula
sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.
Penyebab keempat adalah
akhlak yang buruk. Orang yang buruk akhlaknya akan kikir berbuat
kebaikan dan tidak suka melihat orang lain mendapatkan kebaikan. Jika
melihat sesuatu yang tidak disukainya, ia pasti akan menggerutu dan
sibuk menyalahkan. Orang seperti ini hidupnya akan selalu sengsara, dan
di akhirat nanti akan mendapatkan transfer pahala yang ia miliki kepada
orang yang didengkinya. Rasulullah menyebutnya sebagai orang bangkrut,
mufhlis. Ia membawa pahala kebaikan, tapi pahala itu habis untuk
menggantikan dosa yang diperbuatnya pada orang lain.
Oleh karena itu, Ibnu
Sirrin pernah berucap, “Saya tidak sempat dengki di dunia ini. Kengapa
saya harus dengki, apalagi perkara di dunia dan terlebih lagi dengki
kepada orang saleh? Bukankah dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan
dengan akhirat nanti. Apa perlu kita dengki? Wallahu a’lam bish-shawab.
0 komentar:
Posting Komentar