Dua Masalah Besar dan Kecerdasan yang Berkah
Secara singkat kisah
tentang isu ini bermula ketika rombongan kaum muslimin dalam perjalanan
pulang dari sebuah peperangan menuju Madinah. Kisah ini dilansir dalam
Shahih Bukhari dari ‘Urwah Ibnu Zubair dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha.
Ketika itu rombongan beristirahat di sebuah tempat, kemudian Ummul
Mukminin hendak buang hajat. Ketika selesai buang hajat, ia menyadari
bahwa kalung yang ia kenakan hilang. Kemudian ia mencarinya. Ketika ia
kembali ke tempat peristirahatan rombongan, ia dapati rombongan kaum
muslimin sudah meninggalkannya. Mereka mengira Bunda ‘Aisyah ada dalam
sekedupnya.
Shafwan bin Mu’aththal yang
saat itu ditugaskan untuk berjalan di belakang pasukan, melihatnya dan
kaget dan beristirja’. Shafwan mempersilahkan Ummul Mukminin menaiki
untanya kemudian menuntun unta tersebut sampai bertemu dengan rombongan
pasukan kaum Muslimin. Mulai dari sinilah fitnah mulai disebarkan oleh
‘Abdullah bn Ubay bin Salul.
Masalah ini menyimpan dua
sisi kejadian dan ‘Aisyah Ra mampu melewati masalah ini dengan
langkah-langkah yang cemerlang. Sisi pertama, saat Ummul Mukminin
mendapati dirinya tertinggal rombongan. Sisi kedua, isu tentang dirinya
yang menyebar luas seperti api yang membakar rumput kering.
Apa yang dilakukan Ummul Mukminin ‘Aisyah Ra dalam menghadapi dua masalah ini?
-
Ketika mendapati dirinya tertinggal dari rombongan, ia memutuskan untuk bertahan di tempat yang sama sambil menunggu kembalinya pasukan atau beberapa utusan dari mereka. Karena jika mereka merasa kehilangan dirinya, tentu mereka akan kembalike tempat tersebut untuk mencarinya. Beliau Ra tidak gegabah untuk segera menyusul pasukan. Keputusan itu menandai dirinya sebagai seorang yang tenang, mampu menguasai diri, berani, dan memiliki ketawakalan yang luar biasa. Tentu suatu kondisi yang berat sendirian tertinggal pasukan, banyak bahaya yang mengintai saat ia sendiri menunggu kembalinya beberapa pasukan untuk menjemputnya. Tapi jika ia gegabah menyusul pasukan akan lebih membahayakan dirinya.
-
Saat ia menyadari isu kebohongan tentang dirinya dan Shafwan bin Mu’aththal, ‘Ummul Mukminin pula mampu menjaga keseimbangan dan ketegaran jiwanya. Dengan kecemerlangannya, Ummul Mukminin ‘Aisyah Ra mampu mengambil langkah paling tepat. Ia memohon kepada RasulullahSaw agar diizinkan pulang ke rumah orangtuanya. Karena menurutnya masalah ini perlu diselesaikan segera selama Rasulullah Saw belum mendapatkan wahyu yang determinatif tentang masalah tersebut. Selain itu, kasus-kasus seperti ini juga membutuhkan rentang waktu agar masalahnya mereda dan tenang.
Pilihan ini mengandung banyak hikmah dan kecerdasan, diperkuat lagi dengan cepatnya Rasulullah mengabulkan permohonan tersebut.
Sementara kaum muslimin
banyak yang terfitnah dengan berita tersebut bahkan Suku Aus dan Khazraj
nyaris bentrok. Rasulullah pun setelah mendengar berita tersebut tidak
berkenan duduk di sebelah Bunda ‘Aisyah Ra sampai sebulan lamanya sampai
wahyu yang menjelaskan duduk perkara Ummul mukminin diturunkan oleh
Allah.Kecerdasan, kesabaran, dan kecemerlangan dirinya membuahkan hasil
yang luar biasa. Dirinya yang suci benar-benar dibuktikan kesuciannya
oleh Allah langsung dari langit ketujuh. Allah menurunkan 10 ayat
sekaligus untuk mengklarifikasi fitnah yang menyesakkan dada tersebut,
yakni QS. An Nuur: 11-21). Ayat-ayat pensucian yang hingga kini kita
baca adalah tentang dirinya. Allahu Akbar! Betapa Allah benar-benar
memuliakannya.
Semoga kisah ini dapat
menjadi teladan bagi para muslimah agar tegar menghadapi segala
permasalahan, sabar, berhati-hati (tidak tergesa-gesa) dan menghadapi
segala situasi dengan penuh ketenangan dan tekad diri sampai masalah
yang dihadapi benar-benar terselesaikan dengan kehendak Allah Swt.
Disadur dari buku ’Aisyah yang Cerdas dan yang Dicinta karya Ahmad Ibnu Salim Baduwilan
(muslimahzone.com)
0 komentar:
Posting Komentar