Padahal bumi ini memiliki
mekanisme sendiri. Dia akan terus mengeluarkan berkah tanpa henti,
selama dikelola dengan syariah. Dan umat Islam dalam sejarah telah
membuktikan. Mereka juga tidak berhenti hanya dalam bentuk pengaturan
syariah, tetapi juga mengembangkan segala teknologi untuk menjadikan
bumi makin berkah.
Para ilmuwan Islam
terdahulu telah menjadikan ilmu bumi (geografi) sebagai ilmu yang
menghubungkan langit (yakni pengamatan astronomi dan meteorologi) dan
bumi (geodesi dan geologi). Juga ilmu yang menghubungkan dunia hidup
(biotik) dan mati (abiotik). Yang hidup pun mencakup flora, fauna dan
manusia beserta interaksinya.
Dan yang lebih penting:
geografi tidak cuma ilmu untuk memetakan dan memahami alam semesta di
sekitar kita, namun juga untuk mengubahnya sesuai kebutuhan kita.
Berbeda dengan filsafat, geografi memiliki kegunaan praktis, baik di
masa damai maupun di masa perang. Sampai hari ini, geografi mutlak
diperlukan baik oleh wisatawan, perencana kota hingga panglima militer.
Dari sisi sejarah, para
geografer pertama muncul hampir bersamaan dengan mereka yang dianggap
filosof pertama. Anaximander dari Miletus (610 – 545 SM) dikenal
sebagai pendiri geografi. Anaxagoras berhasil membuktikan bentuk bulat
bumi dari bayangan bumi saat gerhana bulan. Namun dia masih percaya
bahwa bumi seperti cakram. Yang pertama mencoba menghitung radius bumi
sebagai bola adalah Eratosthenes. Sedang Hipparchus menggagas lintang
dan bujur serta membaginya dalam 60 unit (sexagesimal) sesuai matematika
Babylonia saat itu. Penguasa Romawi-Mesir Jenderal Ptolomeus (83-168)
membuat atlas yang pertama.
Setelah kejatuhan Romawi,
terjadi migrasi dari geografi Eropa ke dunia Islam. Alquran
memerintahkan untuk melakukan penjelajahan demi penjelajahan (QS Ar
Ruum: 9). Para geografer Muslim ternama dari Abu Zaid Ahmed ibn Sahl
al-Balkhi (850-934), Abu Rayhan al-Biruni (973-1048), Ibnu Sina
(980-1037), Muhammad al-Idrisi (1100-1165), Yaqut al-Hamawi (1179-1229),
Muhammad Ibn Abdullah Al Lawati Al Tanji Ibn Battutah (1305-1368) dan
Abū Zayd ‘Abdu r-Rahman bin Muhammad bin Khaldūn Al-Hadrami,
(1332-1406), menyediakan laporan-laporan detail dari penjelajahan
mereka.
Namun tentu saja selembar
peta sering berbicara lebih banyak dari jutaan kata-kata. Fenomena juga
harus ditafsirkan dengan teori atau informasi yang dikenal sebelumnya.
Untuk itulah para ilmuwan Islam menafsirkan ulang karya-karya
sebelumnya baik dari Romawi, Yunani maupun India dan mendirikan Baitul
Hikmah di Baghdad untuk tujuan itu. Al-Balkhi bahkan mendirikan “Mazhab
Balkhi” untuk pemetaan di Baghdad.
Al-Biruni menyediakan
kerangka referensi dunia pemetaan. Dialah yang pertama kali menjelaskan
tentang proyeksi polar-equi-azimutal equidistant, yang di Barat baru
dipelajari lima abad setelahnya oleh Gerardus Mercator(1512-1594).
Al-Biruni dikenal sebagai sosok yang paling trampil dalam soal
pemetaan kota dan pengukuran jarak antar kota, yang dia lakukan untuk
banyak kota di Timur Tengah dan anak benua India. Dia mengombinasikan
antara kemampuan astronomis dan matematika untuk mengembangkan berbagai
cara menentukan posisi lintang dan bujur. Dia juga mengembangkan teknik
mengukur tingginya gunung dan dalamnya lembah. Dia juga mendiskusikan
tentang habitabilitas planet (syarat-syarat planet yang dapat didiami)
dan menaksir bahwa seperempat permukaan bumi dapat didiami manusia.
Dia
juga menghitung letak bujur dari kota Khwarizm dengan menggunakan
tinggi matahari dan memecahkan persamaan geodetis kompleks untuk
menghitung secara akurat jari-jari bumi yang sangat dekat dengan nilai
modern. Metode al-Biruni ini berbeda dengan pendahulunya yang biasanya
mengukur jari-jari bumi dengan mengamati matahari secara simultan dari
dua lokasi yang berbeda. Al-Biruni mengembangkan metode kalkulasi
trigronometri berbasis sudut antara dataran dan puncak gunung yang dapat
dilakukan secara akurat oleh satu orang dari satu lokasi saja.
John J O’Connor dan Edmund F Robertson menulis dalam MacTutor History of Mathematics archive : “Important contributions to geodesy and geography were also made by Biruni. He introduced techniques to measure the earth and distances on it using triangulation . He found the radius of the earth to
be 6339.6 km, a value not obtained in the West until the 16th century.
His Masudic canon contains a table giving the coordinates of six hundred
places, almost all of which he had direct knowledge.”
Seiring dengan
al-Biruni, Suhrab pada abad ke-10 membuat buku berisi
koordinat-koordinat geografis serta instruksi untuk membuat peta dunia
segi empat dengan proyeksi equi-rectangular atau
cylindrical-equidistant. Sedang Ibnu Sina berhipotesa tentang
sebab-sebab munculnya pegunungan secara geologis, apa yang sekarang
disebut ilmu geomorfologi.
Dengan kerangka tersebut
Al-Idrisi membuat peta dunia yang detil atas permintaan raja Roger di
Sicilia, yang waktu itu dikuasai Islam. Peta al-Idrisi ini disebut di
Barat “Tabula Rogeriana”. Peta ini masih berorientasi ke Selatan.
Al-Hamawi menulis Kitab Mu’jam al-Buldan yang
merupakan ensiklopedi geografi dunia yang dikenal hingga saat itu. Ibn
Battutah membuat laporan geografi hingga pulau-pulau di Nusantara, yang
Majapahit atau Sriwijayapun tidak meninggalkan catatan. Sementara itu
Ibnu Khaldun menulis dalam kitab monumentalnya “Muqadimah” suatu bab
khusus tentang berbagai aspek geografi, termasuk klimatologi dan
geografi manusia.
Geografer Muslim dari Turki
Mahmud al-Kasygari (1005-1102) menggambar peta dunia berbasiskan
bahasa, dan ini pula yang dilakukan oleh Laksamana Utsmani Piri Rais
(1465-1555) agar Sultan Sulayman I (al-Qanuni) dapat memerintah daulah
khilafah dengan efisien.
Geografi di kalangan kaum
Muslimin masih bertahan ketika Khilafah masih menegakkan jihad. Begitu
era jihad mengendur, antusiasme pada geografi pun mengendur. Kaum
Muslimin jadi kehilangan “kompas” dan wawasan mereka dalam peta
geopolitik dunia. Akibatnya satu demi satu tanah air mereka lepas atau
sumber dayanya diperas atau dicemari penjajah kafir. Maka keberkahan
dari bumi pun lenyap sudah.[]
(gambar diatas) Peta Eropa & Timur
Tengah buatan al-Idrisi (“Tabulla Rogeriana”), orientasi ke selatan
(gambar ini sudah dirotasi).
Oleh: Dr. Fahmi Amhar
[www.globalmuslim.web.id]
Oleh: Dr. Fahmi Amhar
[www.globalmuslim.web.id]
0 komentar:
Posting Komentar