Hadir sebagai pemateri adalah Ust. Rian Prioandana yang mengungkapkan ketidakmampuan kondom dalam mencegah virus HIV/AIDS, “Pori-pori
kondom itu terlalu lebar untuk menahan virus HIV/AIDS. Virus HIV/AIDS
yang sangat kecil itu akan sangat mudah masuk melalui pori-pori kondom.” Selain itu, kondom pun sering kali gagal untuk mencegah kehamilan, “Nah,
apabila kondom dipakai dalam rangka untuk mencegah kehamilan pun,
ternyata tidak efektif, karna menurut penelitian bahwa efektiftas kondom
untuk mencegah kehamilan hanya 70 %.”, lanjut Ust. Rian.Oleh
karena itu, dengan adanya berbagai fakta dan bukti mengenai
ketidakmampuan kondom dalam mencegah virus HIV/AIDS dan kehamilan yang
tidak diinginkan, aneh bila pemerintah masih saja menggulirkan kebijakan
kondomisasi ini, “Jelas, latar belakang sesungguhnya dari
kebijakan kondomisasi ini bukanlah dalam rangka menurunkan angka
pengidap HIV/AIDS dan mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, namun
motif utamanya tidak lain adalah untuk mencengkram negeri ini dengan
sekulerisme-liberalisme.”, papar Ust. Rian. “Bukan
hanya itu, dengan adanya kebijakan ini, maka yang diuntungkan adalah
perusahan-perusahan produsen kondom, yang tidak lain adalah para
kapitalis.”, sambung Ust. Rian.
Kebijakan kondomisasi yang
digulirkan oleh Menkes Nafsiyah Mboi ini jelas telah menimbulkan reaksi
penolakan dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa. Pasalnya,
kebijakan kondomisasi ini adalah upaya melegalkan perzinahan dan seks
bebas di tengah-tengah masyarakat, khususnya generasi muda Islam.
Padahal justru, sebab utama merebaknya pengidap HIV/AIDS dan kehamilan
yang tidak diinginkan adalah perilaku seks bebas di kalangan generasi
muda, “Sumber utama dari penularan HIV/AIDS dan kehamilan yang tidak
dikehendaki adalah seks bebas. Dengan adanya kebijakan kondomisasi ini,
maka alih-alih akan menurunkan angka pengidap HIV/AIDS dan kehamilan
yang tidak diinginkan, justru malah akan meningkatkan penderita HIV/AIDS
dan kehamilan yang tidak diinginkan, karena merebaknya perzinahan dan
seks bebas.”, ungkap Ust. Rian. Masih menurut beliau, imbas lain
yang tak kalah membahayakan adalah akan semakin banyaknya jumlah aborsi
di negeri ini.
Jamaah yang hadir pun
sangat antusias menyimak pemaparan materi, dan salah satu jamaah
menanyakan perihal bagaimana Islam mengatasi permasalahan HIV/AIDS ini, “Dalam
menyelesaikan kasus ini, Islam akan mencabut akar permasalahan
utamanya, yaitu seks bebas. Peraturan Islam akan menghentikan dan
memberangus perilaku seks bebas generasi muda, seraya memberikan saknsi
yang tegas bagi para pelaku perzinahan.”, jawab Ust. Rian.
Di akhir kajian, MC
mengingatkan kepada seluruh jamaah yang hadir bahwa kita harus menolak
kebijakan kondomisasi ini, karena sungguh penolakan kita merupakan
bentuk amar makruf nahi mungkar yang wajib dilakukan setiap
muslim. Dan solusi kondom adalah solusi yang timbul dari ideologi
Sekulerisme-Liberalisme yang bukan menyelesaikan masalah, namun menambah
keruwetan masalah dan mengundang murka Allah swt. Maka sudah semestinya
kita berharap hanya pada Islam untuk menyelesaikan permsalaahan
HIV/AIDS ini, yaitu dengan penerapan Syariat Islam secara sempurna dalam
naungan Khilafah Islam. Allahu Akbar. [FF]
Foto kegiatan:
0 komentar:
Posting Komentar