٨. وَقَالَ مُوسَى إِن تَكْفُرُواْ أَنتُمْ وَمَن فِي الأَرْضِ جَمِيعاً فَإِنَّ اللّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ
Dan (ingatlah juga),
tatkala Tuhanmu memaklumkan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti
Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Dan Musa berkata:
“Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari
(ni’mat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS: Ibrahim:7-8)
Tidak ada yang bisa
membantah besarnya kenikmatan yang dikaruniakan allah SWT kepada
manusia. Demikian besarnya hingga manusia mustahil bisa
menghitungnya (lihat QS An Nahl (16):1). Sesudah selayaknya manusia
bersyukur kepada allah. Yang maha pemberi kenikmatan.bukan malah
sebaliknya mengingkari brbagai kenikmatan tersebut. Amat banyak ayat dan
hadist yang memerintahkan manusia untuk bersyukur. Pahala besar akan di
janjikan akan di berikan pelakunya.sebaiknya melarang manusia bersikap
ingkar sekaligus memberikan ancaman azab bagi pelakunya. Ayat ini adalah
antaranya
Tambahan
Allah SWT berfirman :Wa idz ta’adzdzna Robbukum (dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkanmu). Ada keterkaiatan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Dalam ayat sebelumnya diberitakan tentang perkataan nabi musa as terhadap kaumnya ang mengingatkan mereka terhadap kaumnya yang mengingatkan mereka tentang besarnya nikmat allahntas mereka. Dalam ayat disebutkan:Dan (ingatlah), ketika musa berkata pada kaumnya:”Ingatlah nikmat allah atasu ketika dia menyelamatkanmu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siska yang pedih,mereka menyembelih anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak perempuanmu;dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari tuhanmu” (TQS ibrahim (14): 6). Kemudian dilanjutkan ayat ini yang memberikan dorongan agar bersyukur atas nikmat-Nya sekaligus menyebutkan ancaman bagi orang-orang yang mengingkrinya
Allah SWT berfirman :Wa idz ta’adzdzna Robbukum (dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkanmu). Ada keterkaiatan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Dalam ayat sebelumnya diberitakan tentang perkataan nabi musa as terhadap kaumnya ang mengingatkan mereka terhadap kaumnya yang mengingatkan mereka tentang besarnya nikmat allahntas mereka. Dalam ayat disebutkan:Dan (ingatlah), ketika musa berkata pada kaumnya:”Ingatlah nikmat allah atasu ketika dia menyelamatkanmu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siska yang pedih,mereka menyembelih anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak perempuanmu;dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari tuhanmu” (TQS ibrahim (14): 6). Kemudian dilanjutkan ayat ini yang memberikan dorongan agar bersyukur atas nikmat-Nya sekaligus menyebutkan ancaman bagi orang-orang yang mengingkrinya
Kata idz merupakan zharf li
al-zaman al-mahdi (kata keterangan waktu lampau) yang berposisi sebagai
maf’ul bih (obyek kaliamat) dengan fil’mahzhuf(kata kerja yang
dihilangkan adalah udzkur(ingatlah) Sedangkan huruf wawu al-athf di awal
ayat ini berguna menyambung dengan ayat sebelumnya. Oleh karena
itu,sebagaimana dijelaskan al-alusi ayat ini termasuk dalam perkataan
Musa as yang diberitakan allah SWT. Kalimat daam ayat ini
ma’thuf(disambungkan)dengan kata nikmatal-lah (kenikmatan allah).
Sehingga maknanya :ingatlah nikmat allah dan ingatlah ketika
mengumumkanya Kata ta’adzdzna merupakan bentuk tafa”ala dari kata adzana
. dalam bahasa Arab, bentuk tafa’ala terkadang digunakan untuk menyebut
af ’ala;sebagamana kata aw’adtuhundan taw”adtuhu yang memiliki kesamaan
makna ( aku memberi peringatan kepadanya).kata adzana berarti a’lama
(memberitahukan). Sehingga,sebagai mana disebutkan Al jazairi dalam
tafsiranya, frase ini bermakana a’alama Rabbukum (tuhanmu
memberitahukan kepadamu).
Perkara yang di umumkan
oleh Allah SWT adalah:la in syakartum la azidannakum (sesungguhnya jika
kamu bersyukur, pasti kami akan menambahkan (nikmat)kepadamu). Enurut al
Asfahani, kata al syukr berartitashawwur al-ni’mah wa izhariha
(menggambarkan kenikmatan dalam benak dan menampakkannya). Fakhrudin Ar
Razi dalam tafsirnya mengatakan bahwa kata tersebut untuk pengakuan
terhadap kenikmatan baik memberi nikmat yang bisa di ketaui dengan
penghormatan terhadap nya dan menempatkan jiwa dalam jiwa tersebut. Di
jelaskan Ismail Haqqi dalam Ruh Al-Bayan ketika menafsiran QS Al-
Kaustsar bahwa syukur di wujudkan dengan hati lisan dan perbuatan.
Syukur dengan hati adalah mengetahui bahwa berbagai kenikmatan tersebut
berasal dari-Nya juga dari yang lain. Syukur dengan lisan adalah dengan
memuji dan memnyanjung memberi nikmat. Sedangkan bersyukur dengan
pebuatan adalah dengan menggunakan kenikmatan tersebut dengan bersikap
loyal dan rendah hati terhadap-Nya.
Ini sejalan dengan
penjelasan Abdur Rahman Al Sa’di dalam tafsirannnya, Taysir Al Karim Al
Rahman, Bahwa al syukr adalah pengakuan hai terhadap nikmat-nikmat
Allah, Memuji-Nya atas kenikmatan tersebut, dan menggunakannya dalam
keridhaan Allah SWT. Al Zamaksyari mengatakan dalam Al Kasysyaf, bentuk
syukur tersebut di wujudkan dalam bentuk keimanan yang bersih dan amal
shalih. Sahal Bin Abdullah, sebagai mana di kutip Al Qurthubi dalam
tefsirnya, upaya sungguhsungguh dalam ketaatan di sertai dengan
meninggalkan kemaksiatan, baik dalam keadaan sepi maupun ramai. Semua
penjelasan tersebut menunjukkan bahwa syukur meniscayakan terhadap
syari’ah. Ketika itu dilakukan, maka akan di janjikan : Ia adidannakum
(sungguh aku tambah kepadamu).
Artinya, ditambah ddengan
kenikmata. Fakhruddin Al Razi dalam mafatih Al Ghayb mengatakan,
“ketahuilah, mkasud ayat ini adalah penjelasan bahwa barang siapa
menyibukkan dengan besyukur kepada nikmat-nikmat Allah, maka Allah akan
menambahkannya dengan berbagai kenikmatan dari-Nya. “Bahwa yang akan di
tambahkankepada oarng ysng bersyukur adalah kenkmatan, juga merupakan
kesimpulan para mufassir lainnya, seperti Al Thabari, Al Nasafi, Al
Bhaiadawi, Al Saukani, Al Sa’d dan lain-lain. Bertolak dari ayat ini,
al-Qurthbi menyimpulkan bahwa syukur merupkan sebab bagi penambahan
sikap Ayat ini juga menunjukkan secara pasti bahwa balasan kebaikan akan
kembali kepada pelakunya ini seperti di tegaskan Allah SWT dalam
firman-Nya : dan barang siapa yang bersyukur untuk dirinya sendiri : dan
barang siapa yang tidak bersyukur (TQS Luqman (31):12)
Azab bagi yang mengingkari
>Setelah dijelaskan
balasan bagi orang yng bersyukur, kemudian di jelaskan bagi orang
berlaku sebaliknya. Allah SWT berfirman : wala in k afartum(dan jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku)). Kata al Kufrbisa bermakna dhid al
iman(kebaikan dari iman). Bisa juga berati zehud al ni’mah (mengingkari
kenikmatan). Demikian pula penjelasan Abu Bakar ar Razi dalam mukhtar Al
Shihhah. Dalam konteks ayat ini, tentu yang dimaksudkan adalah makna
yan kedua, yakni kufr al-ni’mah (mengingkari kenikmatan). Terhadap
orang-orang yang mengingkari nikmat tersebut di ancam dengan azab-Nya.
Allah STW berfirman: inna adzabi lasysdid (maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih). Dijelaskan Al Wahidi Al Naisaburi dalam tafsirnya Al
Wajiz Fi tafsir Al-Kitab Al-Aziz, ini merupakan ancaman berupa azab
terhadap pengingkar nikmat. Menurut Al Nasafi, azab tersebut di dunia
berupa di cabutnya nikmat, sedangkan di akhirat berupa ssiksa yang terus
menerus.
Termasuk dari nikmat dunia
yang adalah rezeki. Kenikmatan rezeki tersebut bisa dicabut karena
dosa-dosa yang dikerjakan hamba. Nabi SAW bersabda:”Sseseungguhnya
seorang hamba dihalangi rezekinya di sebabkan dosa yang menimpanya.” HR.
Ahmad dari Tsauban). Adanya ancaman yang kerasmitu menunjukkan
bahwanperintah bersyukur tersebut berhukum wajib. Perintah bersyukur
disebut kan dalm banyak dali, seperti QS Al-Baqarah (2): 152 ,172,
An-Nahl(16):114, Al Ankabut(29): 17 dan lain-lain. Selain mendapatkan
pahala dan nikmat,pelakunya juga terpelhara dari siksa-Nya.Allah SWT
berfirman: Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan
beriman? (QS An Nisa’m(4): 147).
Kemudian dalam ayat
selanjutnya Allah SWT berfirman: waqala musa in takfuru antum wa man fi
al-ardhjami’an(an) (dan musa berkata: “jika kamu dan orang-orang yang
ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah). Artinya, kamu
tidak mau ingkar kepada nikmat-nikmat Allah dan tidak mengimani-Nya.
Demikian As Samar qandi dalam tefsirnya. Atau seperti penjelasan Al
Saukani, “Apabila kamu dan seluruh makhluk mengingkari nikmat-nikmat
Allah”. Kalaupun itu terjadi, maka: fa inna-lah la Ghaniyy hamid (maka
sesungguhnya Allah maha Kaya agi maha Terpuji). Kata Ghaniyy berarti
Allah tidak membutuhkan syukurmu dan tidak membuatnya berkurang
sediitpun. Sedangkan hamid, artinya Allah layak terhadap pujian karena
kebesaran kenikmatan-Nya meskipun mereka tidak bersyukur.
Atau, Dia dipuji oleh
selain kalian, yakni para malaikat. Demikan penjelasan Al Syaukani dalam
tafsirnya, Dengan demikian, pengingkaran yang dilakukan manusia sama
sekali tidak memberikan pengaruh bagi Allah SWT. Sebaliknya, justru
mendatngkan bahaya bagi pelakunya sebagaimana di tegaskan dalam ayat
sebelumnya.. Bertolak dari ayat-ayat ini, tidak ada alasan bagi manusia
untuk tidak bersyukur kepada-Nya, baik dengan hati, lisan maupun
tindakan. Sebagaimana telah di terangkan di muka, bersyukur dengan
tindakan adalah menaati syariah dan menerapkannya dalam kehidupan
kaffah. Terhadap pelakunya, akan di berikan tambahan kenikmatan yang
lebih besar. Namun sebaliknya, jika mengingkari nikmat-Nya, membangkang
atas perintah-Nya, maka bersiaplah menerima azab yang sangat dahsyat.
Wal-lah a’lam bi al-shaab. (globalmuslim)
0 komentar:
Posting Komentar