“Refleksi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928: Tolak Nasionalisme, Saatnya Pemuda Perjuangkan Syariah dan Khilafah”

Written By Unknown on 4/07/2013 | 03:23

Tanggal 28 Oktober, para pemuda boleh berbangga. Sejarah telah mengukir hari itu sebagai Hari Sumpah Pemuda. Hari di mana para pemuda berserikat menuntut kemerdekaan Indonesia atas penjajahan asing. Gebrakan yang dilakukan oleh para pemuda bangsa pada 84 tahun lalu, telah berhasil menorehkan rumusan sumpah pemuda. Tepat 28 Oktober 1928, ribuan pemuda memadati sebuah bangunan di Jalan Kramat Raya 106 untuk membacakan Sumpah Pemuda
Ikatan Nasionalisme telah menggerakkan para pemuda kala itu untuk bersatu demi merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Perang fisik yang terjadi di tengah-tengah kondisi bangsa yang terjajah, rupanya mampu memberikan suntikan semangat dalam diri para pemuda. Namun sayangnya, semangat itu hanyalah semangat semu. Mereka bersatu karena terikat oleh semangat nasionalisme. Ikatan satu tanah air, satu bangsa, serta satu bahasa. Ikatan semu yang hanya muncul saat adanya serangan dari luar yang mengancam mereka. Pemuda merasa terancam dengan serangan bertubi-tubi yang dilakukan oleh penjajah. Hal inilah yang akhirnya menggerakkan mereka untuk melakukan perlawanan. Bersatu (hanya) saat dijajah secara fisik. Namun, ketika penjajahan fisik itu telah berakhir, semangat nasionalisme pun turut surut. Sehingga salah besar jika kita berharap pada ikatan nasionalisme. Ikatan semu, mudah hilang, dan bathil.
Apakah kita pikir sekarang bangsa ini sudah merdeka dari penjajahan? Salah besar jika kita menganggap demikian. Bahkan hingga detik ini pun kita masih dijajah. Walaupun penjajahan itu tidak lagi secara fisik, tetapi penjajahan secara pemikiran terus mengancam. Lalu di manakah nasionalisme yang kalian banggakan? Hilang, terbawa arus globalisasi, terkubur genangan hedonisme. Bayangkan jika suatu saat kalian berpindah kewarganegaraan ke Belanda, dan (seandainya) saat itu Belanda sedang dijajah oleh Indonesia. Lalu atas dasar ikatan nasionalisme kalian beralih membela Belanda dan memusuhi Indonesia. Betapa munafiknya ikatan ini bukan? Karenanya nasionalisme memang merupakan ikatan yang bathil (salah), dan tidak layak dijadikan pedoman.
Berbeda halnya dengan pandangan Islam dalam menyatukan umat dengan digerakkan oleh ikatan akidah/ideologi, yaitu ideologi Islam. Ikatan yang didasarkan atas keimanan kepada Allah swt. Ikatan yang tidak hanya tersekat batas negara, tetapi lebih bersifat global dan mendunia. Tidak lagi memandang bahwa kita adalah bangsa Indonesia, tetapi melihat bahwa kita adalah makhluk ciptaan Allah swt. Ikatan yang muncul karena konsekuensi keimanan kita, yang mengakui Allah swt. sebagai pencipta sekaligus pengatur hidup kita. Sehingga ketika melihat kondisi dunia yang mencampakkan aturan Allah swt, takni Syariah, maka di manapun berada, pemuda dengan ikatan akidah ini akan memberontak, meneriakkan perubahan demi diterapkannya Syariah secara totralitas di muka bumi.
bunuh sejenak sumpah pemuda dengan ikatan nasionalisme-nya. Mari kita buka lembaran sejarah Islam yang lebih mulia dengan ikatan akidah-nya. Berjalanlah di jalan yang lurus (yaitu jalan Islam), bukan jalan thaghut. Perangi sistem kufur (Demokrasi, Kapitalisme, Sekulerisme, Liberalisme) yang merusak moral bangsa. Cukup jadikan Islam sebagai satu-satunya sistem hidup kita. Jadilah pemuda Islam harapan umat, yang merindukan kemenangan dengan berjuangan menegakkan Syariah dalam naungan Khilafah Islamiyah. ALLAHU AKBAR!!! (Faqih Fiddin)
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT.
Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan
Template Modify by Divisi INFOKOM FKIM
Proudly powered by Blogger