Tanggal
28 Oktober, para pemuda boleh berbangga. Sejarah telah mengukir hari
itu sebagai Hari Sumpah Pemuda. Hari di mana para pemuda berserikat
menuntut kemerdekaan Indonesia atas penjajahan asing. Gebrakan
yang dilakukan oleh para pemuda bangsa pada 84 tahun lalu, telah
berhasil menorehkan rumusan sumpah pemuda. Tepat 28 Oktober 1928, ribuan
pemuda memadati sebuah bangunan di Jalan Kramat Raya 106 untuk
membacakan Sumpah Pemuda
Ikatan Nasionalisme telah
menggerakkan para pemuda kala itu untuk bersatu demi merebut kemerdekaan
bangsa Indonesia. Perang fisik yang terjadi di tengah-tengah kondisi
bangsa yang terjajah, rupanya mampu memberikan suntikan semangat dalam
diri para pemuda. Namun sayangnya, semangat itu hanyalah semangat semu.
Mereka bersatu karena terikat oleh semangat nasionalisme. Ikatan satu
tanah air, satu bangsa, serta satu bahasa. Ikatan semu yang hanya muncul
saat adanya serangan dari luar yang mengancam mereka. Pemuda merasa
terancam dengan serangan bertubi-tubi yang dilakukan oleh penjajah. Hal
inilah yang akhirnya menggerakkan mereka untuk melakukan perlawanan.
Bersatu (hanya) saat dijajah secara fisik. Namun, ketika penjajahan
fisik itu telah berakhir, semangat nasionalisme pun turut surut.
Sehingga salah besar jika kita berharap pada ikatan nasionalisme. Ikatan
semu, mudah hilang, dan bathil.
Apakah kita pikir sekarang
bangsa ini sudah merdeka dari penjajahan? Salah besar jika kita
menganggap demikian. Bahkan hingga detik ini pun kita masih dijajah.
Walaupun penjajahan itu tidak lagi secara fisik, tetapi penjajahan
secara pemikiran terus mengancam. Lalu di manakah nasionalisme yang
kalian banggakan? Hilang, terbawa arus globalisasi, terkubur genangan
hedonisme. Bayangkan jika suatu saat kalian berpindah kewarganegaraan ke
Belanda, dan (seandainya) saat itu Belanda sedang dijajah oleh
Indonesia. Lalu atas dasar ikatan nasionalisme kalian beralih membela
Belanda dan memusuhi Indonesia. Betapa munafiknya ikatan ini bukan?
Karenanya nasionalisme memang merupakan ikatan yang bathil (salah), dan
tidak layak dijadikan pedoman.
Berbeda halnya dengan
pandangan Islam dalam menyatukan umat dengan digerakkan oleh ikatan
akidah/ideologi, yaitu ideologi Islam. Ikatan yang didasarkan atas
keimanan kepada Allah swt. Ikatan yang tidak hanya tersekat batas
negara, tetapi lebih bersifat global dan mendunia. Tidak lagi memandang
bahwa kita adalah bangsa Indonesia, tetapi melihat bahwa kita adalah
makhluk ciptaan Allah swt. Ikatan yang muncul karena konsekuensi
keimanan kita, yang mengakui Allah swt. sebagai pencipta sekaligus
pengatur hidup kita. Sehingga ketika melihat kondisi dunia yang
mencampakkan aturan Allah swt, takni Syariah, maka di manapun berada,
pemuda dengan ikatan akidah ini akan memberontak, meneriakkan perubahan
demi diterapkannya Syariah secara totralitas di muka bumi.
bunuh sejenak sumpah pemuda
dengan ikatan nasionalisme-nya. Mari kita buka lembaran sejarah Islam
yang lebih mulia dengan ikatan akidah-nya. Berjalanlah di jalan yang
lurus (yaitu jalan Islam), bukan jalan thaghut. Perangi sistem kufur
(Demokrasi, Kapitalisme, Sekulerisme, Liberalisme) yang merusak moral
bangsa. Cukup jadikan Islam sebagai satu-satunya sistem hidup kita.
Jadilah pemuda Islam harapan umat, yang merindukan kemenangan dengan
berjuangan menegakkan Syariah dalam naungan Khilafah Islamiyah. ALLAHU
AKBAR!!! (Faqih Fiddin)
0 komentar:
Posting Komentar